my HIStory

Rose: Sebuah Kisah tentang PenyertaanNya

Suatu siang di ibukota, di sebuah kantor redaksi majalah rohani berskala nasional, suasana kantor sedang lengang. Beberapa meja kerja terlihat kosong ditinggal sang empunya untuk istirahat makan siang.
Beberapa orang lagi terlihat menikmati bekal makan siang yang dibawa dari rumah sambil mengobrol santai dengan rekan di meja sebelah.
Namun, sangat berbeda dengan meja di ujung ruangan.
Suara ketikan keyboard dan ‘klik’ mouse beberapa kali terdengar.
Rose, sang editor berusia 26 tahun, masih berada di depan layar komputer.
Sudah 2 minggu ini Rose cuti kerja pasca melahirkan anak pertamanya.
Tidak heran, pekerjaannya menumpuk begitu ia kembali bekerja.
Dia sedang sibuk membaca dan memeriksa beberapa artikel yang akan naik cetak.
Tiba-tiba raut mukanya menjadi serius ketika membaca sebuah surat kesaksian dari seorang pembaca.

“Namaku Jim, usia 21 tahun. Aku tergabung dalam tim redaksi warta di gereja. Sekalipun seorang penulis warta gereja, aku tidak serohani tulisan-tulisanku. Aku tahu tentang Tuhan, dan kurasa aku mengenalNya. Tapi berdasarkan pengalamanku, Dia tidak semenarik sebagaimana aku menulis tentangNya.
Tentu saja, itulah pikiranku sebelum aku menyaksikan hal yang menakjubkan ini.

Siang itu, aku sedang minum kopi di lantai atas kafe kecil di seberang rumah sakit bersalin.  Waktu itu aku sedang mencari inspirasi untuk sebuah topik warta gerejaku. Topik itu tentang penyertaan Tuhan yang sempurna.
Tentu saja aku harus berpikir keras karena pengalaman tak mengajarkanku apa-apa tentang topik ini. Aku berupaya membuat cerita fiksi sebagai ilustrasi, tetapi kemudian Dia mengarahkan perhatianku pada seorang perempuan di seberang sana.

Perempuan itu sepertinya baru beberapa hari yang lalu melahirkan.
Perutnya masih terlihat buncit, dengan cara jalan yang masih khas ibu hamil.
Ia berjalan dengan seorang pria, yang pastinya itu adalah suaminya.
Pria itu menggendong seorang bayi mungil yang dilindungi kain selendang warna biru. Mereka tidak berdua, tetapi juga disertai oleh seorang perempuan lanjut usia, sepertinya nenek dari bayi itu. Nenek itu membawa tas perlengkapan bayi yang cukup besar.
Mereka terlihat akan menyeberang jalan.

Ketika baru saja maju beberapa langkah, tiba-tiba tali tas perlengkapan bayi yang dibawa oleh nenek itu putus sehingga tas jatuh tertinggal di jalan.
Sang nenek yang menyadari hal itu segera membalikkan badan untuk mengambil tas. Perempuan itu dan suaminya juga ikut membalikkan badan untuk melihat nenek itu dan tas yang dibawanya.
Ketika mereka semua sedang  membalikkan badan, tidak lebih dari 3 detik, tiba-tiba sebuah mobil pick-up melaju kencang di balik punggung mereka. Sangat menegangkan bagiku yang sedang memperhatikan mereka!
Setelah mengambil tas, perempuan itu dan suaminya, juga nenek itu melanjutkan menyeberang jalan dengan tenang.

Aku tercengang. Mereka tidak tahu apa yang baru saja mereka alami.
Mereka semua hampir saja tertabrak. Ya, mereka semua, perempuan itu dan suaminya, nenek itu, dan juga bayi yang mungkin baru beberapa hari lahir ke dunia.
Jika saja tali tas yang dibawa oleh nenek itu tidak putus, mereka akan terus melangkah dan … Ah! Tentu saja aku tidak akan menulis kesaksian ini.

Ya, siapapun mereka, aku tidak mengenalnya.
Tapi, aku mengenal Dia yang meluputkan mereka dari tabrakan itu.
Sungguh menakjubkan!

Terima kasih,
Jim.”

Rose terdiam. Air matanya tumpah.
Ia baru saja menyadari bahwa ‘mereka’ yang diceritakan oleh Jim ialah dirinya dan keluarganya.
Ya, 1 minggu setelah melahirkan, Rose dijemput di rumah sakit oleh suami dan ibu mertuanya.  Karena parkir rumah sakit penuh, suami Rose memarkir mobil di seberang jalan, di depan kafe kecil itu.
Ibu mertuanya yang ketika itu membawa tas perlengkapan bayi, dan talinya putus ketika mereka menyeberang jalan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa ada mobil pick-up yang melaju kencang, dan mereka terluput dari tabrakan maut.

Bejana Pilihan


Suatu ketika Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia - manakah yang akan terpilih?

"Pilihlah saya", teriak bejana emas, "Saya mengkilap dan bercahaya. Saya sangat berharga dan saya melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahan saya akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang yang seperti Engkau, Tuanku, emas adalah yang terbaik!"
Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi. "Aku akan melayani Engkau, Tuanku, aku akan menuangkan anggur-Mu dan aku akan berada di meja-Mu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memuji-Mu."
Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga.

Bejana ini lebar mulutnya dan dalam, dipoles seperti kaca. "Sini! Sini!" teriak bejana itu, "saya tahu saya akan terpilih. Taruhlah saya di meja-Mu, maka semua orang akan memandangku."

"Lihatlah saya", panggil bejana kristal yang sangat jernih. "Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya saya. Meskipun saya mudah pecah, saya akan melayani Engkau dengan kebanggaan saya. Dan saya yakin, saya akan bahagia dan senang tinggal dalam rumah-Mu."

Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh. "Engkau dapat memakai saya, tuanku", kata bejana kayu. "Tapi aku lebih senang bila Engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti."

Kemudian Tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana Tuan itu.

"Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan Kupakai, dan akan Aku buat sebagai milik-Ku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong. Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar.
Tetapi yang Kucari adalah bejana yang sederhana yang akan Kupenuhi dengan kuasa dan kehendak-Ku."
Kemudian Ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki, membersihkan dan memenuhinya. Ia berbicara dengan lembut kepadanya. "Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah Kuperbuat bagimu."

Pertanyaannya, kita jadi bejana seperti apakah sekarang?

Kebanggaan, membuat kita dipandang dunia..
Kesombongan, membuat kita seakan-akan ada diatas dan melihat orang lain lebih rendah..
Kita semua berasal dari awal yang sama, bejana liat yang 'Kosong dan Hancur'..

Ingatlah untuk menjadi berkat buat orang lain, seperti apa yang Tuhan sudah perbuat bagi kita..

"Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah..." (Yoh 15 : 16)

Gbu always..^^

Crossroad


Someday..
We will stand at the crossroad
And it’s time to choose our own way
I go mine and you go yours
I’m here and you’re there

But remember..
A heart of a friend will always say:
“Reach your dream,  pray for me”
“You are happy, I’m glad”
“Never say goodbye, see you someday!”

Yes!
The crossroad is almost near.
But friendship will always have a room in the heart
Just for you to stay in.


25 Nov 2012


Dear Lord,
And I live to worship You
My Jesus You're the only one for me
Nothing will ever take Your place
My precious Savior..


Tuhan, kalau aku liat hidupku hari ini, aku ngga berani minta apa-apa lagi rasanya.
Dua puluh satu tahun berjalan bersama dan Kau TIDAK PERNAH mengecewakan. Kadang bagiku Kau menjengkelkan, tidak bisa dimengerti, tetapi pada akhirnya, satu-satunya kalimat yang bisa kukatakan adalah "Kau Allah yang luar biasa.."
Semuanya Tuhan cukupkan, malah melebihi apa yang aku bayangkan.
Tapi Tuhan, izinkan aku minta 3 hal,
Jadikan aku Sylvie Amelina seperti yang ada di dalam hati-Mu,
Ketika Kau menenunku 21 thn yang lalu, apa yang ada di hati-Mu, Tuhan?
Sylvie Amelina seperti apa yang Kau pikirkan?
Ketika pertama kali aku muncul di dalam hati-Mu, wanita seperti apa yang Kau bayangkan? Seperti apa tingkah lakunya, hatinya, kepribadiannya? Jadikan aku seperti itu, Bapa.

Aku ingin menyenangkan-Mu sepanjang hidupku. Tidak hanya ketika aku masih muda, tapi sampai detik terakhir aku menghirup nafasku, aku mau menyenangkan-Mu.

Jadikan aku kurang ….
Kurang pintar, supaya aku selalu bergantung pada hikmat-Mu bukan pada kepintaranku
Kurang bijaksana, supaya aku terus belajar di bawah kaki-Mu
Kurang baik, supaya aku sadar bahwa semua perbuatan baik yg aku lakukan itu krn kasih karunia-Mu
Kurang kuat, supaya kekuatanku datangnya daripada-Mu
Kurang cantik, supaya aku sadar bahwa kecantikanku itu datangnya dari kemuliaan-Mu.

Tuhan, aku memang tidak perlu bisa melakukan segala seuatu, aku cuma perlu bisa mengerjakan apa yang Kau minta.
Aku ngga perlu mengerti segala sesuatu, aku cuma perlu mengerti, Jesus loves me.

Jadikan aku makin kecil, supaya makin hari Engkau yang makin nyata. Biarlah makin hari aku makin kecil, supaya Engkau makin besar. With less of me, there’s more of God and His rule.

Ketika kelak mungkin krn tekanan cintaku memudar, aku mohon, jangan lepaskan aku. Jangan biarkan aku melarikan diri dari kasih-Mu.
Tarik aku kembali dalam kasih-Mu.

Kuserahkan hidupku ke dalam tangan Kasih-Mu.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih, Tuhan Yesus buat hari ini..

Amin.

“He must increase, but I must decrease” John 3:30

Turn Your Prayers Into Conversation

Help me, Lord, to develop a strong prayer life. I know you desire intimacy with me and that you want me to watch with you and pray (Matthew 26:40).


Yet I never seem to find the time to pray in a deep, fervent, consistent, persistent way. What draws me to my knees the most is when I have a problem, when I want something from you, when I need your help.

I’m flipping through my calendar, stressing with commitments, and you just want to hang out — with me. Help me turn my prayers into conversations with you that keep flowing throughout the day — an on-going communication, where I never say “amen.”

Keep me close to you, no matter what it takes. I’m not sure I really want to pray that; I have bruises and scars from whatever-it-takes discipleship, but, then again, I confess the crush of these moments have taught me to throw myself on the stone before the stone falls on me.

And that has moved me closer to the love that compels my obedience, closer to becoming one with your heart. So, I’m asking that you change my “wants” until my deepest want is to be with you.

With this I pray that you will create me worthy of my calling and that your power will fulfill every good purpose you plan for me and energize everything I do in faith.

My prayer is that your life will emerge in my face and in my hands, in my thoughts and in my words. I know your grace will make it so (2 Thessalonians 1:11-12).

By: Jon Walker, copied from Daily Hope by Rick Warren.